Senin, 24 November 2014

Mendidik Remaja dengan Cinta



Mendidik Remaja dengan Cinta
Berbicara tentang remaja, kita tidak akan pernah kekurangan tema untuk itu. Dunia remaja sangatlah luas dan “unik”.  Penuh warna, kejutan dan semua yang serba “baru”. Baru disini mengacu pada perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja itu sendiri, dimana perubahan itu meliputi semua aspek kehidupan remaja dari sisi fisiologis, kognitif, emosional maupun social.                                                                                                                                                           
                         
Lalu, siapa sebenarnya remaja itu? Menurut G. Stanley Hall (Bapak studi ilmiah tentang remaja) menyatakan bahwa remaja adalah masa antara usia 12 sampai 23 tahun, yang mana penuh dengan storm dan  stress. Mengapa dipakai istilah storm dan stress?  Istilah  storm & stress disini menjelaskan bahwa  masa  remaja merupakan masa goncangan yang dipenuhi konflik dan perubahan suasana hati (Santrock,2003). Perubahan yang sangat pesat dan cepat itu tidak bisa di terima remaja dengan mudah, dan proses penyesuaian diri itulah  yang seringkali sulit dan menimbulkan banyak masalah. Berada di masa “peralihan” membuat remaja seringkali goyah dalam menentukan akan seperti apa dia membangun konsep dirinya. Karena pada masa itu, seorang remaja masih mudah untuk dipengaruhi terutama dari faktor eksternal dirinya, misalkan teman-teman sepergaulan.
Permasalahan utama pada masa remaja adalah terjadinya konflik antara remaja dan orang tua. Hal tersebut karena tidak adanya pemahaman yang sama di antara keduanya. Masing-masing  terlalu mengedepankan ego  sendiri, remaja tidak terbuka dengan pemikiran maupun pendapat orang tua, begitu pun sebaliknya. Hal itu juga disebabkan oleh perbedaan tipe kepribadian antara orang tua dan remaja (Rice & Dolgin,2002). Orang tua memilki karakteristik-karateristik tertentu seperti bersikap dengan hati-hati, realistis, berpegang pada masa lalu, seringkali membandingkan keadaan remaja sekarang dengan masa remaja orang tua dulu,dan sebagainya. Hal tersebut berkebalikan dengan karakteristik remaja yang idealis dan optimis, memandang bahwa keadaan remaja tempo dulu sudah tidak relevan dengan keadaan sekarang (Rice & Dolgin,2002).
Konflik yang terjadi antara orang tua dan remaja itu seringkali karena orang tua terlalu mengatur kehidupan remaja. Misalkan mengenai dengan siapa kita boleh berteman, kapan kita boleh keluar malam, kegiatan apa saja yang boleh kita ikuti, dan sebagainya (Rice & Dolgin,2002). Terkadang peraturan-peraturan orang tua tersebut membuat remaja merasa terkungkung, tidak bisa menikmati dunia luar yang sudah mulai mereka pahami. Remaja menganggap bahwa orang tua mereka terlalu banyak aturan, kolot, tidak gaul, tidak bisa memahami apa yang diinginkan  oleh mereka. Padahal seringkali orang tua memiliki maksud yang baik dengan segala aturan-aturannya. Namun, para orang tua belum bisa mengomunikasikannya dengan baik kepada para remaja mereka.
Permasalahan remaja tidak hanya dengan orang tua mereka, lingkungan sosial di luar keluarga menjadi kesempatan sekaligus ancaman bagi pengembangan diri mereka. Lingkungan sosial sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian seorang remaja dimana remaja mendapatkan banyak input mengenai berbagai hal baik positif maupun negative. Hal positif ketika mereka mampu mengembangkan diri baik dalam hal akademik, soft-skills, kemampuan berinteraksi dengan lingkungan, dan sebagainya.. Namun sayangnya, di era modernisasi ini lebih banyak hal negative yang dianut oleh para remaja. Kemajuan teknologi selain membawa dampak positif yaitu dengan semakin mudahnya mengakses berbagai macam ilmu, juga menyediakan perangkat-perangkat yang merusak generasi muda seperti misalkan maraknya video porno di internet. Remaja sekarang identik dengan kekerasan, tawuran antar geng, pergaulan bebas, gaya hidup hedonis, narkoba,dan sebagainya.
Segala permasalahan remaja yang ada baik karena konflik internal dengan orang tua maupun faktor-faktor eksternal dari lingkungan sosial, sesungguhnya bisa diatasi dengan pola asuh yang baik dari orang tua itu sendiri. Bagaimana orang tua mempersiapkan anak-anaknya sebelum mengenal dunia luar ketika mereka beranjak remaja. Karena sesungguhnya benteng yang paling bisa menjaga para remaja adalah dengan nilai-nilai moral maupun agama yang ditanamkan oleh orang tua. Proses transfer nilai itu yang harus dicermati yaitu dengan pola pengasuhan yang sesuai. Selama ini yang sering kita lihat di masyarakat, para orang tua tidak memilki pemahaman yang baik mengenai bagaimana mendidik anak dengan baik sehingga anak-anaknya kurang bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Masih belum menjadi hal yang biasa di masyarakat kita untuk “belajar” menjadi orang tua,  terutama di kalangan menengah ke bawah. Padahal kita harus banyak belajar, bahkan sejak masih muda mengenai bagaimana menjadi orang tua yang baik.
Dalam buku “The Adolescent Development, Relationships and Culture” (Rice & Dolgin,2002) disebutkan terdapat tiga komponen dalam pengasuhan. Tiga komponen itu adalah connection, psychological autonomy dan regulation.  Connection berarti bagaimana orang tua bisa menjalin hubungan yang berkualitas dengan remaja yaitu dengan menghadirkan kehangatan,cinta,stabilitas dan perhatian. Psychological autonomy yaitu kebebasan bagi remaja untuk menyuarakan pendapatnya, mempunyai privasi dan membuat keputusan untuk dirinya. Orang tua perlu untuk memberikan kesempatan kepada para remajanya untuk secara bebas menyuarakan segala pendapatnya. Sehingga remaja merasa dihargai atas apa yang menjadi pemikirannya. Dengan begitu orang tua bisa mengakomodir kebutuhan yang memang sesuai dengan remaja. Sedangkan regulation berarti orang tua memberikan aturan-aturan maupun pengawasan pada remaja. Peraturan itu sendiri mengajarkan  remaja mengenai bagaimana agar bisa melakukan kontrol diri.Jadi, dalam proses mendidik seorang remaja, seharusnya orang tua memperhatikan ketiga komponen tadi.
Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan pola-pola pengasuhan yang diterapkan. Diana  Baumrind (dalam Santrock,2003) menjelaskan tiga jenis pola pengasuhan yaitu authoritarian, autoritatif dan permisif. Dalam pengembangannya, permisif dibagi lagi menjadi permisif tidak peduli dan permisif memanjakan.
Pola pengasuhan permisif tidak peduli adalah suatu pola dimana orang tua tidak ikut campur dalam kehidupan remaja (Santrock,2003). Hal itu berarti remaja kurang mendapat kasih sayang  dan perhatian dari orang tuanya. Remaja yang  demikian akan mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya karena tidak adanya bimbingan dari orang tua. Pola pengasuhan permisif memanjakan adalah suatu pola pengasuhan dimana orang tua terlalu terlibat dalam kehidupan remaja tetapi sedikit sekali mengontrol mereka (                                                                                                                           Santrock,2003). Pola pengasuhan ini akan membentuk remaja yang tidak mandiri dan selalu tergantung dengan orang lain.
Pengasuhan authoritarian adalah pola pengasuhan yang membatasi dan bersifat menghukum yang mendesak remaja untuk patuh terhadap petunjuk orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan authoritarian membawa dampak yang buruk bagi anak salah satunya yaitu menurunnya motivasi berprestasi siswa.  Jadi pola pengasuhan yang disarankan untuk para orang tua adalah pengasuhan autoritatif. Pola ini memberikan kebebasan pada remaja tetapi juga sekaligus batasan-batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka.  Diana Baumrind (1971, 1990, 1991a, 1991b) menyatakan bahwa orang tua tidak seharusnya memberikan sangsi ataupun hukuman bagi remaja, melainkan menetapkan peraturan-peraturan tertentu dan memberikan kasih sayang kepada mereka (dalam Santrock,2003). Dalam menetapkan peraturan, orang tua perlu melibatkan putra putri mereka sehingga peraturan tersebut  lebih bisa diterima dan dilaksanakn dengan penuh kesadaran. 
            Dalam pengasuhan tidak hanya dibebankan kepada ibu tetapi juga menuntut peran ayah yang sama besarnya. Remaja membutuhkan tempat bertanya mengenai segala dinamika yang ada pada masa remaja itu. Tempat bertanya itu adalah orang tua mereka, terutama cenderung yang sesuai dengan seksenya. Remaja laki-laki akan lebih banyak bertanya pada ayah terutama mengenai identifikasi diri, bagaimana seorang lak-laki harus menyelesaikan masalahnya dan interaksi dengan lingkungan social. Sedangkan remaja putri akan banyak bertanya pada ibunya mengenai perubahan fisik yang terjadi, moral dan  tata krama seorang perempuan (Orthorita P.M & Budi Andayani,2003).
Faktor penting lain dalam pengasuhan adalah komunikasi. Komunikasi yang baik antara orang tua dan remaja akan mewujudkan suatu keterbukaan diri dan kemampuan mendengarkan pada kedua pihak. Kualitas komunikasi sangat penting, tidak berpengaruh apakah remaja tinggal satu rumah dengan orang tua atau tidak. Dengan komunikasi, orang tua dapat membantu remaja untuk menyelesaikan permasalahannya secara tepat dan bijaksana. Selain itu dapat menghindarkan remaja dari keterlibatan dalam agresivitas yang dipicu oleh lingkungannya (R. Rahmi Diana & Sofia Retnowati, 2009). Komunikasi yang baik bisa menambah keakraban antara orang tua dan remaja, sehingga ayah dan ibu tidak sebatas orang tua tetapi sekaligus menjadi sahabat bagi remaja, tempat berbagi segala suka dan duka.
Orang tua perlu berpikir tentang bagaimana menjalankan perannya sebgai orang tua yakni mengasuh, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka agar bukan saja tidak mematikan kebaikan-kebaikan mereka, tetapi juga merangsang inisiatif-insiatif mereka, mendorong semangat mereka, menunjukkan penerimaan yang tulus dan memberikan perhatian atas segala kebaikan mereka. Karena orang-orang besar tidak dilahirkan, mereka ditempa, diukir dan dipersiapkan dengan pendidikan yang baik oleh orang tua yang selalu menyemangati dengan cinta (Fauzil Adhim, 2006).
                                                     















DAFTAR PUSTAKA

Adhim, M. Fauzil. 2006. Positive Parenting. Bandung : Mizania          
Diana, R. Rachmy & Retnowati, Sofia. 2009. Peranan Kematangan Emosi dan Komunikasi Remaja-Orang Tua terhadap Kecenderungan Agresivitas pada Pelajar Laki-Laki dan Perempuan. Jurnal Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, II (2), 141-150.       
Maharani, O. P. & Andayani, Budi. 2003. Hubungan antara Dukungan Sosial Ayah dengan Penyesuaian Sosial pada Remaja Laki-laki. Jurnal Psikologi UGM, 1, 23-35.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
Rice, F. P. & Dolgin, K. G. 2002. The Adolescent. Development, Relationships and Culture. 10th ed. Boston : Allyn & Bacon
Santrock, John W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga   

















Mendidik Remaja dengan Cinta

Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah “Psikologi Perkembangan Remaja”







Oleh :
Astuti Dian Lestari
PS 05860


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GAJAH MADA
TAHUN 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar