Dengan modal Rp 1,4 juta itu, satu peternak akan mendapat 10 kotak
sarang seharga Rp 10.000 per kotak, telur 4 ons, pakan 120 kg dan beban
oven Rp 50.000. Namun sayangnya, peluang ini belum cukup mendapat
perhatian, sehingga para pengusaha pakan ternak dan jamu, harus menunggu
mendapatkan jangkrik kering atau bubuk dari Astrik.
Ika Nurwidia (23), manager pemasaran Astrik, sempat mengeluh. Dari
700 peternak yang tergabung di asosiasinya, hanya bisa dikumpulkan
sekitar 2 ton per minggu. Satu pabrik pakan ternak di Jawa Timur, bisa
memesan 50 ton dalam satu minggu. Pengusaha pakan ternak tertarik untuk
mengubah pola produksi mereka dengan bahan jangkrik disebabkan oleh
mahalnya bahan impor.
Dari pada untuk membeli tepung babi dari luar negeri dengan harga US$
370 per ton, lebih baik tepung jangkrik yang lebih murah. Dari Astrik,
tepung jangkrik hanya dijual Rp 150 juta per ton. Berdasar penelitian
ilmiah, jangkrik memiliki kandungan hormon progesterone 105,49 ppm,
testoteron 31,78 ppm dan hormon estrogen 259,535 ppm. Bahkan mampu
menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram jauh diatas bahan
makanan lainnya.